CUSTOMER FOCUS

..................................

WORK EXCELLENCE

..................................

INTEGRITY

..................................

TEAM WORK

..................................

CONTINUOUS LEARNING

..................................

Tampilkan postingan dengan label business STRATEGY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label business STRATEGY. Tampilkan semua postingan

Pentingnya BRANDING sebagai media "GAMBAR DIRI" perusahan

Jumat, Agustus 23, 2013 | , , , , , ,



Pentingnya BRANDING sebagai media "GAMBAR DIRI" perusahan


Menciptakan identitas atau ciri khas sebuah toko dikenal dengan sebutan branding. Branding mencakup kesan, citra, dan identitas seperti apa yang ingin dibangun pemilik bisnis di benak para konsumennya. Dalam bisnis online, strategi branding yang dilakukan penjual menentukan popularitas toko online dan merek bisnis yang dimilikinya. Oleh karena itu, penting bagi penjual untuk dapat menerapkan strategi branding yang tepat agar nama toko online-nya terkenal.
Kari Chapin, anggota divisi seller handbook sebuah situs jual-beli internasional, menyebutkan tiga strategi branding yang bisa dilakukan pemilik toko online. Strategi branding ini berguna untuk menciptakan identitas dan citra yang ada di benak konsumen terhadap toko online milik penjual.
  • Cerita di balik toko online
  • Tujuan dan alasan penjual berbisnis online bisa dijadikan salah satu upaya branding. Cerita, latar belakang, sejarah, serta informasi personal lainnya di balik seorang sosok penjual online adalah informasi yang menarik bagi pembeli. Alasan yang menggerakkan penjual untuk berbisnis adalah hal yang membedakan satu toko online dengan toko online lainnya. Tak jarang, visi-misi yang dimiliki penjual mengunggulkan toko online-nya dibanding kompetitor. Penjual bisa menceritakan informasi personal tentang tujuan, visi-misi, dan latar belakang toko online-nya dalam kolom “Tentang Kami” di toko online.
  • Tampilan merek bisnis
  • Apakah nama yang dipilih penjual untuk toko online-nya menarik dan mencerminkan jenis produk yang didagangkan? Apakah nama toko online tersebut mudah diingat konsumen? Apakah penjual memiliki logo merek bisnis bagi toko online-nya? Apakah desain toko online mencerminkan kesan atau identitas yang ingin dibangun penjual? Pertanyaan-pertanyaan ini terkait dengan bagaimana penjual menampilkan merek bisnis yang dimilikinya. Merek bisnis bisa ditampilkan melalui berbagai bentuk, misalnya nama toko online, logo, slogan, warna yang digunakan dalam logo, tampilan visual toko online, tipe huruf yang digunakan, dan lain sebagainya. Penjual hendaknya menampikan merek toko online-nya sesuai dengan identitas atau citra yang ingin dibangunnya di mata konsumen.
  • Target pasar
  • Strategi branding lainnya adalah dengan membidik kalangan konsumen yang menjadi target pasar dari toko online. Penjual perlu “berbicara” tentang produknya kepada target pasar melalui toko online, misalnya dengan cara menuliskan deskripsi produk yang lengkap, jelas, informatif, dan menarik konsumen untuk membeli. Dalam deskripsi produk, penjual bisa menuliskan spesifikasi, fungsi, kelebihan, dan cara penggunaan produk. Semakin jelas penjual menulis deskripsi produk, target pasar pun akan semakin terbujuk untuk membeli.
Read More

Mau mulai Usaha Atau bisnis

Kamis, Agustus 08, 2013 | , , , , , , ,

Mau mulai Usaha Atau bisnis ? Ini Tips nya:

Inilah 13 step sakti menjadi wirausaha

Menjadi wirausaha dan memulai bisnis sendiri adalah impian banyak orang. Sayangnya, banyak yang bingung harus mulai dari mana. Bingung juga harus bisnis apa, dan kapan sebaiknya memulai bisnis yang paling tepat.

Ribuan pertanyaaan berkelebat di benak, yang aslinya sih, bukan pertanyaan, tapi keragu-raguan. Pertanyaan-pertanyaan itu seperti: bisnis apa yang cocok buat saya? Kan, saya tidak punya modal nih. Aku Cuma punya modal 5 juta, usaha apa ya? Peluangnya bagaimana? Bagus gak sih? Dan lain sebagainya.

Oke, kali ini saya coba beberkan 13 jurus sakti untuk memulai jadi pebisnis tangguh, lebih tangguh dari si pejantan tangguhnya Sheila on 7 itu.  :)

1. Mimpi sebagai Awal
A dream is where it all started. Bangunlah mimpimu! Ya, bangun mimpi dan pastikan saat bermimpi kamu tidak sedang tidur! Beneran. Setelah membangun mimpi, segera catat mimpi-mimpimu, sehingga jelas dan terencana. Lah, mimpi kok pake rencana? Iya, bahkan mimpipun harus dicatat dan dinyatakan, agar mudah mengukur pencapaiannya. Ingat, dari seorang pemimpilah semua hal tentang inovasi produk, cara pelayanan, jasa, dan ide bisa laku dijual dan sukses. Karena mimpi tidak ada batasnya, tidak bayar pula, mimpilah dengan berani, dan beranilah bermimpi besar. Dalam dunia mimpi, tidak ada yang tidak mungkin. Tidak ada yang tidak bisa. Semua serba mungkin, semua serba bisa!

2. Percaya dan Yakin
Percaya dan yakin bahwa Anda mampu untuk meraih mimpi dan kesuksesan. Andrie Wongso bilang,“Sukses adalah hak saya”. Karena keyakinan dan kepercayaan ini, segala kendala dan tantangan yang ada di depan akan mudah ditaklukkan, dan kamu merasa ringan saja melakukannya. Ya, harus YAKIN bisa!

3. Mulailah dari hal yang Anda sukai
Yup, temukan passion kamu. Passion itu adlah suatu hal yang jika kamu mengerjakannya, maka hasilnya lebih baik dari orang lain meski tidak dibayar. Atau, suatu pekerjaan yang kamu mampu lakukan berjam-jam, berlama-lama, saat orang lain bosan, kamu masih saja melakukannya.

Mulailah usaha dari hal-hal yang kamu sukai.Sehingga antusiasme akan terus terjaga, meski pada saat-saat sulit. Carilah passion kamu. Untuk menemukan passion, bisa baca artikel soal itu disini.

4. Ketahui dan Belajarlah Dasar-dasar Bisnis
Dasar-dasar Bisnis harus dipelajari, misalnya bagaimana melakukan hal ini:

*BUY LOW, SELL HIGH, PAY LATE, COLLECT EARLY* (beli lebih murah, jual dengan harga tinggi, lakukan pembayaran di belakang, dan terimalah pembayaran di depan). Ilmu dasar berbisnis mutlak harus dipelajari. Aspek-aspek produksi, pemasaran, keuangan dan pengembangan bisnis adalah aspek utma yang harus diketahui.

5. Jangan Takut Mengambil Resiko
Orang sukses adalah pengambil resiko. Jadi bukan resiko yang harus dihindari, tapi bagaimana membuat agar resiko itu tidak terjadi. Bukan dihindari, tapi di manajemen, diatur sedemikian rupa agar resiko is not relevan! Pepatah bijak mengatakan “The Giant that you will be able to achieve is directly proportional to the risk taken“.
Resiko selalu ada di setiap bisnis, bahkan disemua tindakan kita. Semua halada resikonya. Berani mengambil resiko adalah kunci awal dalam dunia usaha. Biasanya, berlaku hukum keseimbangan: Hi-Risk=Hi-Profit. Meski tidak selalu begitu. Tapi resiko terbesar adalah menunda action, karena pasti akan tertundapula suksesnya, dan lebih buruk lagi: Pasti gagal!

6. Carilah Guru dan Konsultan
Ini sangat penting, bergaullah dengan orang-orang yang tepat. Jika ingin jadi pengusaha sukses, banyaklah berteman dengan pengusaha yangterlebih dahulu sukses. Angkatlah mereka jadi ’mentor’. Anda tidak harus bilang ke orang tersebut untuk minta diajari, tapi dekatilah, belajarlah padanya. Cari juga Penasehat Spiritual dan Konsultan Bisnis. Artikel tentang Guru spiritual ada di sini dan tentang konsultan bisnis ada di sini.

7. Miliki Etos Kerja Pengusaha
Seorang pengusaha sukses pasti melakukan kerja lebih banyak dan lebih cerdas dari orang kebanyakan. Meski terlihat mereka tidak bekerjapun, sejatinya mereka berpikir dan bekerja terus-menerus. Bahkan, jauh lebih keras dan lebih banyak dari orang lain. Tanyalah hal ini pada mereka yang sudah sukses, pasti mereka meng-IYA-kannya. Tidak segera menyerah dengan kegagalan, ulang lagi,lakukan lagi…tak berhenti sampai berhasil. Seorang pengusaha, jika memperoleh penolakan dari calon pelanggannya, maka artinya: Belum oke, atau lain waktu pasti oke.

8. Bangunlah Network
Bersilaturahmilah. Bangunlah jaringan, cari teman sebanyak banyaknya. Jangan sekali-kali carimusuh. Perhatikanlah, jika ada barang dan jasa yang harganya sama, kualitasnya sama, maka orang akan cenderung memilih produk atau jasa dari orang yang sudah dikenalnya. Jaringan juga akan membantu anda mengembangkan usaha, memperluas pasar, bahkan membantu anda pada saat-saat sulit.

9. Berani Hadapi Kegagalan
Kegagalan merupakan sebuah vitamin untuk menguatkan dan mempertajam intuisi dan kemampuan kita berwirausaha. Hadapilah dengan jantan! Gagal adalah sarana belajar. Habiskan jatah gagalmu saat muda, sukses pasti datang.
10. Action Now
Mulailah sekarang juga. Karena Bisnis yang baik adalah bisnis yang dibuka, bukan ditanyakan terus.

11. Buka Sekarang Juga

Bisnis itu disebut bisnis jika sudah dibuka, bukan diangan-angan.

12. Bukalah Bisnis Sekarang

Bisnis yang bagus itu adalah bisnis yang sudah dijalankan, bukan cuma dihitung-hitung melulu. Bisnis yang dihitung belum tentu dibuka, tapi bisnis yang dibuka, pasti dibuat perhitungannya.

13. Jangan Tunda, Sekarang saja

Menunda bisnis bagi saya adalah lampu merah. Makin lama ditunda, makin ragulah kita untuk memulainya. Dan makin jauhlah kemungkinan suksesnya.

 

Oke, semoga bermanfaat dan segera mambuka bisnis sendiri! Atau masih harus ditambah dengan 200 jurus lain?

Read More

Kiat Dahsyat Mengelola Bisnis Sembako

Selasa, Agustus 06, 2013 | , , , , , , ,


Bisnis sembako merupakan sebuah usaha alternatif yang banyak diminati oleh berbagai kalangan, mulai dari yang bermodal kecil hingga modal besar. Agar sukses atau minimal dapat menghasilkan pemasukan tetap maka dibutuhkan kreatifitas agar produk yang ditawarkan berbeda dengan yang lain.
Berikut ini ada beberapa tips yang mungkin dapat diterapkan bagi Anda yang sedang merintis atau yang mulai mengembangkan bisnis sembako:
1. Sembako merupakan produk yang pasti dibutuhkan oleh semua orang.
Jadi Anda tidak perlu khawatir soal ada atau tidaknya yang membutuhkan sembako. Yang menjadi soal adalah apakah pengemasan produk sembako yang Anda tawarkan cukup menarik atau tidak. Maksudnya apakah produk tersebut mempunyai nilai lebih sehingga bisa membuat orang tertarik untuk membeli.
2. Tempat juga menjadi pertimbangan yang sangat penting.
Untuk produk seperti sembako, konsumen cenderung mendatangi. Artinya, tempat usaha harus mudah dilihat, dicari, dan dijangkau. Dan ini berarti harus dekat dengan pembeli. Jangan mencari tempat hanya karena murah, namun juga harus karena strategis. Jadi arti kata strategis di atas bermakna memudahkan konsumen dalam mendapatkan sembako.
3. Harga jual produk sangat menentukan laku atau tidaknya produk.
Harga yang ditawarkan sebaiknya mengacu pada dua pendekatan, yaitu pendekatan produksi dan pendekatan pasar. Pendekatan produksi adalah menjual sembako dengan mengambil keuntungan di atas biaya produksi atau biaya operasional. Sementara di sisi lain, Anda perlu melihat harga pasaran. Sebaiknya sembako dijual dengan harga yang kompetitif. Jika pengemasan sembako sama dengan yang lain, maka bsa dijual dengan harga lebih rendah, meskipun keuntungan yang diperoleh lebih kecil. Tetapi apabila produk sembako dikemas dengan sangat menarik, bisa dijual dengan harga lebih tinggi sedikit.
4. Promosikan sembako Anda dengan cara getok tular.
Cara ini hanya bisa dilakukan jika Anda selalu menjual dengan kejujuran. Promosikan dagangan kita dengan kejujuran, sebab hanya inilah yang dapat mendongkrak penjualan kita. Jika ada dana, tidak ada salahnya mencetak brosur agar nampak lebih berbobot dan jual dengan sistem rabar atau diskon pada akhir atau awal bulan. Ini akan sangat membantu meningkatkan penjualan.
5. Soal people.
Kerap kali kita selalu menjual produk bukan menjual jasa. Padahal secara riil yang kita jual tidak hanya barang tapi sejatinya adalah jasa. Mengapa? Karena produk yang dijual tanpa kehangatan, empati dan pelayanan yang baik, mustahil akan mendatangkan pelanggan. Buatlah agar konsumen atau pelanggan merasa dialah orang yang paling penting di mata kita.
6. Jangan menjual produk yang tidak sesuai dengan janji.
Ini akan membuat konsumen kabur. Oleh karena itu, sebaiknya jika kita yakin bisa memenuhi, maka berilah janji beserta buktinya. Jika tidak yakin, janganlah membuat janji.

Read More

TIPS MEMASARKAN PRODUK BARU DAN DITERIMA PASAR

Senin, Juli 15, 2013 | , , , , , ,

Setiap tahun ribuan produk dan layanan baru menyerbu pasar, dan jutaan rupiah pun dihabiskan sebagai dana promosi. Dana khusus itu bisa jadi memang kecil nilainya, kalau produk itu berhasil baik menembus pasar. Namun kenyataan menyedihkan yang justru terjadi, sebagian besar usaha itu gagal. Mengapa?


Taruh kata  sebuah produk atau ide menarik muncul. Semakin lama dipikirkan, dirembuk dengan keluarga, teman, rekan pengusaha, dan sebagainya semakin dalam kita jatuh cinta dengan produk atau gagasan itu.


Kita pun lalu berpendapat, tidaklah perlu menghabiskan uang hanya untuk riset pasar. Malah jangan-jangan justru ada orang mencuri ide kita. Mudah-mudahan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini bisa menuntun kita dalam mengumpulkan informasi untuk mengambil keputusan.

Adakah orang-orang (konsumen) yang membutuhkan produk itu?

Seberapa unik dan praktiskah produk itu?

Wajarkah harga ecerannya nanti menurut penilaian konsumen? Layakkah keuntungan yang kita dapatkan pada tingkat harga itu?

Apakah produk ini hanya bersifat musiman? Mungkinkah mengumpulkan laba yang layak selama kurun waktu pendek tersebut? Dapatkah menembus pasar sebelum musimnya berlalu?

Cukup menarikkah ia hingga bisa masuk ke pasar yang cukup luas? Atauhkah justru ada pasar yang kecil, namun sangat antusias untuk mendapatkannya?

Apakah dalam memasarkan, kita dapat mencapai para pembeli potensialnya?

Apakah kita tergantung dengan pihak lain dalam soal sumber-sumber manufaktur, pengemasan, dan pemasaran?

Terakhir, bila jadi memproduksi barang itu, apakah kita beroleh laba yang layak untuk segala dana, usaha, dan waktu yang diinvestasikan?

Pertanyaan-pertanyaan itu merupakan salah satu bentuk riset pemasaran. Sekalipun pertanyaannya sederhana, tetapi banyak pengusaha tidak memiliki cukup pengalaman atau waktu untuk menjawabnya dengan akurat. Jika kita termasuk kelompok itu, ada tiga cara paling umum untuk menyelesaikannya.


Pertama, pakailah jasa profesional pemasaran. Kekurangan cara ini, selain mungkin paling banyak menghabiskan uang, kita juga akan sangat tergantung padanya. Namun, efisiensi waktu yang tercipta pun akan maksimal.


Kedua, mintalah bantuan seorang guru mata kuliah pemasaran di sebuah perguruan tinggi atau seorang instruktur kursus pemasaran. Mungkin riset yang kita butuhkan itu dapat dijadikan tugas di kelas yang ia bimbing. Memang biaya yang dikeluarkan tidak sebesar cara pertama, namun waktu pelaksanaannya bisa berlarut-larut.


Ketiga, pergi ke perpustakaan atau toko buku untuk belajar dari buku pemasaran Do-It-Yourself (melakukan semua sendiri). Cara ini memang paling sedikit aspek ketergantungannya terhadap pihak lain. Namun, bersikap objektif, meskipun seringkali amat sulit. Di lain pihak, banyak juga pengusaha yang telah berhasil melakukannya

Tips  Memasarkan Produk Baru

Apa sih manfaatnya marketing plan atau rencana pemasaran bagi seorang entrepreneur?

Ada beberapa tujuan marketing plan itu, seperti:

- mencari tahu pasar, bagaimana tipe pelanggan dan pesaing,

- membangun langkah-langkah untuk mendapatkan pelanggan baru

- mempertahankan pelanggan yang sudah ada,

- memprediksi dan mengenali pola perubahan.

Sebuah rencana pemasaran (marketing plan) harus menemukan apa yang pelanggan suka maupun yang tidak disukai.

Lalu berikutnya harus bisa menemukan ekspektasi atau harapan pelanggan terhadap produk kita.

Marketing itu seperti gadis cantik, penuh imajinasi!
Oke, ayo kita cermati 7 panduan dasar marketing berikut ini:

Anda harus punya metode baku pada 4 komponen ini (4P):
product (produk)
price (harga)
place(tempat)
promotion (promosi).

Tentukan dengan jelas target pasar untuk produknya. Perjelas data demografi yang lengkap seperti : usia, jenis kelamin, karir, tingkat pendapatan atau di mana pelanggan tinggal. Makin detail makin bagus, sehingga nanti anda bisa dengan mudah mencari model promosi yang tepat.

Kenali pesaing Anda. Artinya, anda harus tahu betul apa persamaan dan perbedaannya dengan produk anda.
Jawab pertanyaan berikut: “Mengapa saya (pelanggan) harus membeli produk anda?” Ini artinya adalah: Gambarkan bagaimana produk Anda, dan coba menerangkannya seakan-akan anda adalah pelanggannya. Buat penjelasan produk dari persepsi pelanggan. Apa untungnya bagi pelanggan jika memilih produk anda, dan berikan alasan yang kuat, mengapa pelanggan harus memilih produk anda.

Susun anggaran biaya promosi dengan baik. tentukan besarannya, dan tracking feedbacknya.
Bikin strategi harga. Strategi ini bisa mencontoh yang orang lain lakukan. Ini sangat penting karena akan menentukan posisi produk anda di pasar. Penentuan harga dapat dibuat berdasarkan tujuan/target pasar yang anda buat tadi. lalu bikin pula harga yang bertingkat yang memungkinkan orang tertarik menjualkan kembali produk anda sebagai reseller atau agen. Berikan porsi keuntungan yang besar bagi agen/reseller.

Buatlah strategi promosi yang efisien. Seperti beriklan di TV atau koran, atau di web-web yang terkenal sesuai dengan target pasar yang dibidik. Sekali lagi, bikin sistem tracking feed back yang baik, misalnya dengan menanyakan pada pelanggan informasi produk anda diperoleh dari mana. Sehingga anda benar-benar tahu iklan/promosi mana yang paling baik.

Read More

7 Tips to Effectiveness Presentation Skills

Kamis, Juli 11, 2013 | , , , , , , ,

7 Tips to Effectiveness Presentation Skills

Studies show that many people have more fear of public speaking than of dying. That's huge. Whether you're giving your first presentation or your 100th, these tips will help you give less fearful, more powerful presentations.

Step 1
Plan, Prepare, and Practice.

The first step is to plan your verbal presentation - what you're going to say. When giving a presentation, you should always talk about something you know - something in which you are an expert. Credibility is important to get people to listen to you.

If you're stuck on planning a talk, use this formula: Tell them what you're going to tell them. Tell them. Tell them what you told them.

Once your presentation is complete - practice, practice, practice. Know your talk so well you could give it in your sleep. But so you won't put your audience to sleep, follow these next tips.

Step 2
Focus on your visual presentation.

The visual aspect of your presentation is the most important in getting your message across. It includes your body language, gestures, facial expression, eye contact, appearance, and visuals such as PowerPoint - all of what the audience sees.

The people in your audience will form their first impressions of you when you walk into the room. So dress for success and appear confident and friendly, even if your knees are knocking.

Good posture and natural gestures are important. Your most important facial expression is your smile. Smile and they won't notice if you're nervous. The most important visual is eye contact. Look at each person during your talk.

Use visuals whenever possible. Some basic rules for PowerPoint are that your slides should always be in color (no exceptions) and use graphics. If you're talking about going green, for example, show video, photographs, or clip art that represent what you're saying in each slide. Don't hesitate to be humorous if it feels right for you.

Step 3
Use variety in your vocal presentation.

The second most important aspect is your vocal presentation - how you use your voice. It includes volume, pace, tone, inflection, and enunciation. Speak loudly and clearly (even with a microphone), not too fast or slow.

Vary you pace and don't forget the all-important PAUSE. Don't be afraid of silence and say "uh." Pause before and after you make a point; it makes your listeners' ears perk up. If you go along in a monotone, don't be surprised if they go to sleep. Pausing can make you sound conversational. Say, "There's one thing that (short pause) can make recycling more effective." That slight hesitation makes it seem as if you're just thinking of what you're going to say next, as you would in a conversation.

Use a downward inflection at the end of a sentence. Don't say, "More and more people are composting than ever before?" You're telling them, not asking them. This is a bad habit a lot of people have, even experienced speakers. Don't be guilty of doing this or you'll sound wishy-washy and unsure of yourself. A fatal flaw for speakers.

Step 4
Use notes, but don't read or memorize.

When I prepare a talk, I think of what I want to say and say it aloud. Then I write a phrase or some key words that will remind me of what I want to say. I'll type a twenty-minute talk on one or two sheets of paper with just notes that guide me to the next point.

There are a couple of exceptions to this rule. Since your introduction and closing are most important, it's okay to memorize them so you can begin and end with confidence and effective eye contact. Also, if you're quoting someone, it's all right to write the quote in full and read some (not all) of it.

If you're going to allow for questions and answers, do them before closing your talk. You want to leave them with your strongest point and call to action. I like to end by saying, "I'll leave you with these words of..." and give a powerful quote that sums up my presentation. Don't end by saying, "thank you," as if they're doing you a favor. You're doing them a favor. If you must, say instead something like, "You've been a great audience and I've really enjoyed being here."

Step 5
Tell stories.

Tom Peters said, “The best leaders…almost without exception and at every level...are master users of stories and symbols.” And, of course the best leaders are the best speakers.

Tell them the story of how you got your children to turn off lights, save water, and recycle. Your stories should be personal and related to a point you're making. Have you ever gotten teary-eyed or a lump in your throat when a speaker told you how they escaped death in a car accident? Make 'em laugh; make 'em cry. They'll relate to and remember you for it. And stories just make your presentation a lot more personal and interesting.

Step 6
Control your fear of public speaking.

Notice I didn't say eliminate it, although you may reach that point with enough experience. A little nervousness is a good thing - it keeps you on your toes and gives you energy. Just don't let it show. Steve Bull advises, "Nerves and butterflies are fine - they're a physical sign that you're mentally ready and eager. You have to get the butterflies to fly in formation, that's the trick."

There are only two reasons I can think of to be nervous or fearful of giving a presentation. One, you're putting too much importance on what people think of you (ego). Think of what you can do for them instead; that's what you're there for. And know that audiences are on your side. They want you to do a good job; they're not sitting there judging you unless you're awful. Your presentation is for them - not you.

The other reason - a legitimate one - to be nervous is if you're unprepared. There's no excuse for this. People don't mind if you make mistakes or lose your place, but they do mind if you bore them or show a lack of concern for them by not being prepared.

Step 7
Get speech coaching.

Hopefully, these steps have given you some ideas on improving your presentation skills. The best way to make huge improvements is to hire a professional coach. Every experienced, dynamic speaker has had one. Your coach will support you and diplomatically point out ineffective things you're doing that you may be unaware of on your own.

Here's to your success as a personable, professional, powerful presenter!

There are three aspects of a presentation - visual, vocal, and verbal. These seven steps will help you develop more effective presentation skills, reduce your fear of public speaking, and give you podium power.

Read More

KUNCI SUKSES PERUSAHAAN

Minggu, Juni 30, 2013 | , , ,

Baru-baru ini penulis membaca sebuah kutipan, "Imagine a world where most organizations were the best place to work. Imagine what we could be getting done on the planet if it were true."
Ini adalah kutipan yang diambil dari Karen May, wakil presiden dari bagian people development, Google. Hal ini membuat kita berpikir tidak heran banyak orang-orang cerdas dan memiliki talenta memiliki impian untuk bekerja di Google. Terkadang kita selaku pemilik brand terlalu sibuk dalam mempromosikan barang serta jasa dari brand kita ataupun selalu berusaha mendahulukan kebahagiaan klien atau konsumer.
Hal itu bukanlah sesuatu yang salah, namun pada satu titik terkadang kita melupakan salah satu aset brand kita yang sangat penting, yaitu sumber daya manusia kita sendiri atau para karyawan. Perlu kita ketahui bahwa ketika kita bisa menciptakan lapangan kerja yang kondusif di mana karyawan merasa dihargai serta aspirasinya didengarkan, hal ini dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi dari para karyawan tersebut.
Sekarang ini banyak perusahaan melakukan internal branding yang berfokus pada individu karyawannya, muncullah istilah employer branding yaitu usaha sebuah brand dalam mengomunikasikan dan membangun image bahwa perusahaan atau organisasinya merupakan tempat yang menyenangkan dan positif bagi karyawan untuk bekerja.
Employer branding menjadi poin yang penting bagi sebuah brand atau perusahaan belakangan ini dikarenakan kompetisi untuk mencari serta mempertahankan karyawan dengan prestasi gemilang ataupun sesuai kriteria menjadi semakin sulit.
Salah satu contoh adalah Google. Para pendirinya yaitu Larry Page dan Sergey Brin memiliki impian agar Google menjadi kantor favorit dan diminati oleh tenaga kerja berbakat dari seluruh dunia. Idenya sederhana yaitu menciptakan suasana kerja kondusif dan menyenangkan yang membuat karyawannya tetap termotivasi, kreatif, produktif, serta loyal.
Mereka mencoba melakukan riset mendalam mengenai people resources dan menemukan jawaban bahwa orang-orang akan tetap produktif dan setia kepada pekerjaannya ketika orang tersebut merasa dihargai, didukung serta didengar pendapatnya.
Oleh karena itu, Google membuat kebijakan unik di mana semua karyawannya boleh menggunakan 20 persen dari waktu kerjanya untuk proyek pribadi. Proyek pribadi yang memiliki gagasan bagus akan didanai sepenuhnya oleh Google. Banyak ide-ide kreatif yang justru muncul ketika karyawan diberikan kebebasan untuk berkreasi dan mengemukakan pendapatnya.
Kebahagiaan karyawan menjadi fondasi dasar Google untuk terus berinovasi dan menyukseskan brand-nya. Dari contoh di atas, dapat kita lihat manfaat dari berinvestasi pada sektor employer branding. Ketika sebuah perusahaan dari awal sudah memiliki budaya untuk mau mendengarkan aspirasi dan menghargai karyawan, tidak menganggap karyawan hanya sekadar bawahan, perusahaan tersebut sudah selangkah lebih maju.
Dengan menunjukkan empati kepada aspirasi para karyawan, hal ini akan mempermudah Anda juga dalam menyampaikan visi misi jangka panjang perusahaan, karena hubungan yang tercipta tidak lagi bersifat satu arah dan kaku, namun lebih bersifat timbal balik dan dinamis. (bn)

Source: http://adf.ly/RJWAT

Read More

Tips Jitu Membidik Pasar Dengan Nama Bisnis yang Tepat

Minggu, Juni 30, 2013 | , ,

Tips Jitu Membidik Pasar Dengan Nama Bisnis yang Tepat
Sabtu, 29 Juni 2013 08:02


Shakespeare mengibaratkan arti sebuah nama bagi seseorang sebagai sebuah kata buatan manusia yang tak bermakna. Ia mengibaratkan sekuntum bunga mawar yang akan tetap harum meski namanya bukan "mawar". Sebab, nama seseorang tidak menentukan baik atau buruk kualitas pribadinya.

Sayangnya opini Shakespeare mengenai nama tidak berlaku dalam dunia bisnis. Bagi sebuah bisnis, nama adalah salah satu faktor penentu dalam menentukan keberhasilan. Nama sebuah perusahaan, merek, produk, atau layanan dapat menjadi sebuah 'label' yang menjelaskan seperti apakah perusahaan, merek, produk, atau layanan tersebut. Nama yang baik dapat beperan sebagai pendorong bagi calon pelanggan potensial untuk membeli produk atau layanan yang ditawarkan, atau bisa juga tertarik untuk menjadi mitra bisnis. Sebuah nama yang baik juga berperan sebagai sebuah 'papan iklan' yang lebih efektif daripada iklan konvensional.

Dan yang paling penting bagi sebuah bisnis, nama adalah hal pertama yang dapat membedakan kita dari para pesaing dan dapat membangkitkan emosi tertentu bagi para pelanggan. Keterkaitan secara emosional antara bisnis Anda dengan pelanggan adalah sebuah aset yang harus dibangun dan terus menerus dipupuk karena hal tersebut akan membuat pelanggan selalu teringat dengan bisnis kita dan akan kembali datang untuk seterusnya. Jadi jangan anggap remeh peran sebuah nama dalam bisnis kita.

Sebelum memilih atau menciptakan sebuah nama, terdapat beberapa faktor yang sebaiknya dipertimbangkan. Yang pertama ialah jenis perasaan atau emosi apa yang Anda ingin pelanggan rasakan jika nama bisnis Anda disebut. Yang kedua ialah strategi penempatan bisnis Anda. Yang ketiga ialah nama-nama apa sajakah yang digunakan oleh para kompetitor Anda.  

Membuat atau memilih nama yang baik dan efektif bagi suatu perusahaan baru, misalnya, akan lebih sulit daripada membuat nama yang bagus untuk seorang bayi yang baru lahir. Sangat kecil kemungkinan akan ada orangtua lain yang akan menuntut atau menyeret Anda ke meja hijau jika nama anak Anda sama dengan nama yang digunakan untuk anak mereka. Hal yang berbeda bisa terjadi pada dua perusahaan yang menggunakan nama yang sama atau menggunakan nama yang sama untuk merek produk yang mereka luncurkan karena nama dalam bisnis biasanya terlindungi oleh hak merek.

Berikut ini adalah beberapa saran yang dapat digunakan dalam membuat atau menciptakan nama bagi bisnis baru Anda:
1. Pilihlah kata yang spesifik dan khas karena kata yang terlalu umum atau general akan membuat bisnis Anda sulit dikenali. Hindari kata yang terlalu umum atau sulit dikenali seperti, "Katering Bu Sri". Bayangkan betapa banyak orang yang memiliki nama Sri. Akan sulit bagi calon pelanggan untuk menemukan bisnis Anda dan yang lebih utama lagi ialah nama-nama yang terlalu umum seperti itu lebih sulit untuk diingat para pelanggan dan memiliki peluang yang lebih kecil untuk dapat dijadikan merek dagang.
2.  Hindari nama umum yang jelas-jelas menggambarkan jenis produk atau layanan tertentu, seperti "Perusahaan Air Mineral dalam Botol" atau "Usaha Layanan Antar Makanan Cina".
3. Lazimnya Anda harus menghindari pula nama-nama yang lekat dengan letak geografis. Akan sulit bagi anda untuk mengganti nama bisnis jika Anda kelak suatu saat memutuskan untuk memperluas usaha ke tempat lain atau berpindah lokasi usaha ke kota lain, misalnya. Tentunya terdapat beberapa pengecualian, contohnya Anda lebih memilih untuk menonjolkan selera atau nuansa lokal pada usaha Anda. Makna pemilihan nama yang berkenaan dengan letak geografis adalah pilihan yang tidak terhindarkan.
4. Sebisa mungkin lepaskan visi jangka panjang bisnis Anda dengan tidak membatasi jajaran layanan atau produk Anda di masa datang.
5. Cobalah untuk menggunakan kata yang singkat, hanya terdiri dari beberapa suku kata dan relatif mudah bagi orang untuk mengucapkannya dengan benar. Sebuah nama bisnis yang terlalu sulit dilafalkan akan membuat pelanggan malas menyebutkannya dan bahkan akan melupakannya.
Source:
http://adf.ly/RJIRp

Read More

CARA INSTANT JARING CALON PEMBELI, LANGGANAN, PROSPEK

Selasa, Juni 18, 2013 | , , , ,

Cara Mudah Dapat Pelanggan Baru

Banyak orang yang menganggap, memprospek pelanggan kerap diibaratkan memancing hanya dengan tongkat dan tali pancing. Begitu pancing dilempar ke sungai atau ke laut, pancingan akan menarik perhatian ikan. Namun menurut Tom Hopkins, konsultan untuk superior sales training di perusahaannya (Tom Hopkins International), yang sering dilupakan orang adalah, memilih lokasi untuk melemparkan kail tersebut, dan umpan apa yang disukai ikan.
Dalam hal memilih tempat memancing, misalnya, Anda perlu menentukan kriteria pelanggan Anda. Seorang pelanggan ideal setidaknya harus memenuhi lima kriteria berikut:

1. Usianya antara 25 dan 35 tahun
2. Menikah   
3. Tinggal dalam radius 8 km dari lokasi toko Anda   
4. Memiliki anak usia sekolah   
5. Berkendara sejauh setidaknya 48 km setiap minggu

Menurut Hopkins, jika Anda tidak dapat menyebutkan paling tidak lima karakteristik konsumen yang ingin Anda jangkau, bisnis Anda tidak akan cepat berkembang. Untuk mendapatkan karakteristik tersebut, coba amati tiga pelanggan Anda yang utama. Apa persamaan mereka? Dari jawaban tersebut, Anda akan mengetahui karakteristik pelanggan Anda.
Setelah itu, mulailah menggambarkan pelanggan Anda. Apakah mereka remaja? Wirausahawan? Atau perempuan usia matang? Pikirkan tentang mereka sebagai kelompok pelanggan. Anda mungkin memiliki layanan yang disukai remaja, tetapi siapa yang menginvestasikan uangnya? Pasti orangtuanya. Maka Anda akan membutuhkan lebih dari satu strategi pemasaran untuk melakukan penjualan.

Setelah itu, Anda perlu mencari cara untuk menjangkau calon konsumen Anda ini. Jika Anda mengincar ibu rumah tangga, dimana Anda dapat menemukan mereka selain di sekolah? Bisa jadi di hipermarket, minimarket, tempat cuci mobil, tempat senam, atau di kedai-kedai makanan. Di tempat-tempat ini Anda bisa menempelkan poster atau flyer usaha Anda di bulletin board-nya, terutama yang lokasinya dekat dengan sekolah. Jangan lupa, perempuan adalah mahluk yang impulsif. Mereka mudah tergoda dengan brosur-brosur penawaran produk.

Bila segmen dari produk Anda adalah perempuan dengan penghasilan tinggi, dimana mereka bisa Anda temui? Apakah di restoran fine dining, di tempat-tempat pelangsingan tubuh, atau di klinik-klinik kecantikan? Tempat-tempat ini mungkin tidak memungkinkan Anda untuk sembarangan menempelkan atau membagikan brosur. Tetapi coba cari dimana biasanya terdapat papan tempat mengiklankan produk. Anda juga bisa mencoba membuat mailing list untuk orang-orang yang menjadi member di tempat pelangsingan, klinik kecantikan, atau pusat kebugaran tersebut.

Namun, cara termudah untuk mendapatkan pelanggan baru adalah dengan meminta nama-nama mereka dari pelanggan yang sudah ada. Anda hanya perlu memintanya. Anda tentu tidak bisa langsung meminta nama teman-teman dari pelanggan Anda. Tanyalah, misalnya, "Biasanya kalau lagi ke klinik sama siapa saja, Bu?" Atau, "Teman-teman Ibu sudah punya perlengkapan yang dibutuhkan untuk senam atau belum?"

Cara lain adalah dengan menawarkan diskon khusus untuk pelanggan, jika mereka mau membawa konsumen baru. Konsepnya semacam member get member. Bila mereka membawa satu pelanggan, akan mendapatkan bonus produk tertentu. Bonus akan bertambah besar bila mereka membawa pelanggan baru lebih banyak. Kunci dari pemberian bonus atau gimmick semacam ini adalah menawarkan sesuatu yang cukup bermanfaat bagi pelanggan, sehingga mereka bersedia mengajak teman untuk ikut menggunakan produk atau jasa Anda.
Anda bisa bekerjasama dengan kedai kopi atau toko buku tertentu, misalnya, untuk memberikan gift voucher bagi pelanggan. Dengan demikian, Anda juga akan mendapat balasan promosi dari pemilik bisnis yang Anda ajak kerjasama.

Source: http://adf.ly/QiuSg

Read More

DUA KENDALA DALAM MEMULAI USAHA

Selasa, Juni 18, 2013 | , , , ,

Dua kendala (alasan) Saat Memulai Bisnis

Pencarian peluang usaha modal kecil sangat populer di kalangan masyarakat saat ini. Tapi apakah memang ada usaha dengan modal kecil tapi bisa menghasilkan untung besar. Semua usaha yang kita lakukan baik itu bermodal besar ataupun kecil akan memberikan keuntungan bagi kita jika melaksanakannya dengan tekun dan berjiwa pantang menyerah. Para pebisnis - pebisnis besar pun tidak ada yang tidak pernah mengalami kegagalan dalam menjalankan bisnisnya, namun karena mereka memiliki sifat pantang menyerah dalam menghadapi hidup segala sesuatu dapat dihadapi dengan jiwa besar.

Oke kembali bahasan semula, peluang usaha dengan modal kecil atau bahkan ada yang cari peluang usaha tanpa modal. Kendala yang sering kita alami jika ingin memulai usaha adalah :

1. Tidak punya modal ( penting tapi bukan yang utama )
Secara umum jika kita ingin memulai suatu usaha kita harus punya modal duit, dan ini seringkali menjadi kendala / keluhan setiap orang untuk dapat memulai usaha. Tapi apakah mutlak duit harus kita punyai jika ingin memulai usaha?. Saya kira tidak. Jika ingin memulai usaha modal utama yang kita perlukan adalah " keinginan untuk maju " yang kuat dari dalam diri kita. Ada pepatah yang mengatakan " di mana ada kemauan disitu pasti ada jalan ".

Apakah jika kita mempunyai modal duit bisa menjamin usaha kita akan berhasil?. Belum tentu kan. Jika kita mempunyai gagasan tentang usaha baru yang ingin laksanakan, tapi modal uang tidak mencukupi, mulai saja dengan menulis gagasan Anda tersebut dalam bentuk proposal atau paling tidak Anda buat catatan kecil tentang prospek usaha yang Anda rencanakan. Berapa biaya yang diperlukan, alat - alat apa saja yang dibutuhkan, lokasi yang strategis dimana, proses opersionalnya, serta keuntungan yang bisa dicapai dalam 1 bulan berapa, hingga BEP nya ( jangka waktu balik modal ) Nah, setelah optimis dengan " rancangan usaha " yang Anda buat tersebut, Anda bisa menunjukkannya kepada teman, atau saudara Anda yang kira2 mau menginvestasikan uangnya untuk usaha anda tersebut. Kalau ada teman atau saudara Anda yang mau berinvestasi untuk Anda dan Anda berhasil memulai usaha Anda tersebut, modal berapa yang Anda keluarkan?. Nyaris tanpa modal kan. mantaapp.

2. Bingung mau usaha apa atau merasa tidak punya keahlian khusus
Jika Anda tidak mempunyai gambaran apapun ingin usaha apa, Anda bisa menawarkan jasa Anda untuk menjualkan produk orang lain. Misalkan di sekitar rumah Anda ada konveksi yang memproduksi pakaian, Anda bisa menawarkan jasa Anda untuk membatu menjualkannya, tentu dengan hitungan komisi atas kesepakatan bersama. Tawarkan saja komisi Anda berdasarkan jumlah barang berhasil Anda jual. Anda bisa menawarkan jualan Anda ke teman - teman Anda, atau bahkan secara online dengan memanfaatkan kecanggihan internet saat ini. Bisa melalui jejaring sosial facebook, twitter, bahkan toko online. Andapun bisa membuat toko online sendiri jika Anda mau mempelajarinya. Jika anda berhasil menjual banyak otomatis keuntungan Anda juga banyak bukan?. Anda hanya bermodal tenaga Anda saja, tidak pake duit. Saya kira dalam menjual suatu produk tidak memerlukan keahlian khusus, yang paling penting dalam menjual harus jujur tentang produk yang anda tawarkan, dan juga berikan daya tarik kepada calon pembeli Anda, misalkan beli 1 lusin diskon 5 % atau beli 4 gratis 1 dan sebagainya. Dan juga katakan kepada pembeli Anda akan ada diskon atau bonus untuk pembelian selanjutnya. Dengan cara ini pembeli akan tertarik membeli produk yang Anda tawarkan. Tapi yang harus Anda ingat konsumen paling tidak suka dibohongi, katakan apa adanya tentang barang yang Anda jual, jangan sekali - kali membohongi calon konsumen jika Anda berbisnis di bidang penjualan. (bn)

Source: http://adf.ly/Qioxu


Read More

Warren Buffett's 10 Ways to Get Rich

Kamis, Mei 09, 2013 | , , ,

Warren Buffett's
10 Ways to Get Rich
http://adf.ly/OjUrS

With an estimated fortune of $62 billion, Warren Buffett is the richest man in the entire world. In 1962, when he began buying stock in Berkshire Hathaway, a share cost $7.50. Today, Warren Buffett, 78, is Berkshire's chairman and CEO, and one share of the company's class A stock worth close to $119,000. He credits his astonishing success to several key strategies, which he has shared with writer Alice Schroeder. She spend hundreds of hours interviewing the Sage of Omaha for the new authorized biography The Snowball. Here are some of Warren Buffett's money-making secrets -- and how they could work for you.

1. Reinvest Your Profits: When you first make money in the stock market, you may be tempted to spend it. Don't. Instead, reinvest the profits. Warren Buffett learned this early on. In high school, he and a pal bought a pinball machine to put in a barbershop. With the money they earned, they bought more machines until they had eight in different shops. When the friends sold the venture, Warren Buffett used the proceeds to buy stocks and to start another small business. By age 26, he'd amassed $174,000 -- or $1.4 million in today's money. Even a small sum can turn into great wealth.

2. Be Willing To Be Different: Don't base your decisions upon what everyone is saying or doing. When Warren Buffett began managing money in 1956 with $100,000 cobbled together from a handful of investors, he was dubbed an oddball. He worked in Omaha, not Wall Street, and he refused to tell his parents where he was putting their money. People predicted that he'd fail, but when he closed his partnership 14 years later, it was worth more than $100 million. Instead of following the crowd, he looked for undervalued investments and ended up vastly beating the market average every single year. To Warren Buffett, the average is just that -- what everybody else is doing. to be above average, you need to measure yourself by what he calls the Inner Scorecard, judging yourself by your own standards and not the world's.

3. Never Suck Your Thumb: Gather in advance any information you need to make a decision, and ask a friend or relative to make sure that you stick to a deadline. Warren Buffett prides himself on swiftly making up his mind and acting on it. He calls any unnecessary sitting and thinking "thumb sucking." When people offer him a business or an investment, he says, "I won't talk unless they bring me a price." He gives them an answer on the spot.

4. Spell Out The Deal Before You Start: Your bargaining leverage is always greatest before you begin a job -- that's when you have something to offer that the other party wants. Warren Buffett learned this lesson the hard way as a kid, when his grandfather Ernest hired him and a friend to dig out the family grocery store after a blizzard. The boys spent five hours shoveling until they could barely straighten their frozen hands. Afterward, his grandfather gave the pair less than 90 cents to split. Warren Buffett was horrified that he performed such backbreaking work only to earn pennies an hour. Always nail down the specifics of a deal in advance -- even with your friends and relatives.

5. Watch Small Expenses: Warren Buffett invests in businesses run by managers who obsess over the tiniest costs. He one acquired a company whose owner counted the sheets in rolls of 500-sheet toilet paper to see if he was being cheated (he was). He also admired a friend who painted only on the side of his office building that faced the road. Exercising vigilance over every expense can make your profits -- and your paycheck -- go much further.



6. Limit What You Borrow: Living on credit cards and loans won't make you rich. Warren Buffett has never borrowed a significant amount -- not to invest, not for a mortgage. He has gotten many heart-rendering letters from people who thought their borrowing was manageable but became overwhelmed by debt. His advice: Negotiate with creditors to pay what you can. Then, when you're debt-free, work on saving some money that you can use to invest.

7. Be Persistent: With tenacity and ingenuity, you can win against a more established competitor. Warren Buffett acquired the Nebraska Furniture Mart in 1983 because he liked the way its founder, Rose Blumkin, did business. A Russian immigrant, she built the mart from a pawnshop into the largest furniture store in North America. Her strategy was to undersell the big shots, and she was a merciless negotiator. To Warren Buffett, Rose embodied the unwavering courage that makes a winner out of an underdog.

8. Know When To Quit: Once, when Warren Buffett was a teen, he went to the racetrack. He bet on a race and lost. To recoup his funds, he bet on another race. He lost again, leaving him with close to nothing. He felt sick -- he had squandered nearly a week's earnings. Warren Buffett never repeated that mistake. Know when to walk away from a loss, and don't let anxiety fool you into trying again.

9. Assess The Risk: In 1995, the employer of Warren Buffett's son, Howie, was accused by the FBI of price-fixing. Warren Buffett advised Howie to imagine the worst-and-bast-case scenarios if he stayed with the company. His son quickly realized that the risks of staying far outweighed any potential gains, and he quit the next day. Asking yourself "and then what?" can help you see all of the possible consequences when you're struggling to make a decision -- and can guide you to the smartest choice.

10. Know What Success Really Means: Despite his wealth, Warren Buffett does not measure success by dollars. In 2006, he pledged to give away almost his entire fortune to charities, primarily the Bill and Melinda Gates Foundation. He's adamant about not funding monuments to himself -- no Warren Buffett buildings or halls. "I know people who have a lot of money," he says, "and they get testimonial dinners and hospital wings named after them. But the truth is that nobody in the world loves them. When you get to my age, you'll measure your success in life by how many of the people you want to have love you, actually do love you. That's the ultimate test of how you've lived your life."
Read More

GOST: Goal/Objective, Strategy, and Tactics

Kamis, Mei 02, 2013 | , ,

GOST: Goal/Objective, Strategy, and Tactics
Dalam perusahaan kecil dan menengah, jarang sekali ada pemikiran tentang penyusunan “Strategy” yang terarah, kebanyakan pebisnis hanya “Mengalir” saja dan melakukan bisnisnya seperti “biasanya”, dan kadang2 mencoba beberapa hal2 baru yang kalau gagal akan diganti dengan yang lain.
Michael Porter dalam buku saktinya “Competitive Advantage” memberikan 3 “generic strategies”, strategi umum yang dipakai perusahaan untuk berkompetisi:
Differentiation, atau strategi membedakan diri kita dengan kompetitor, cocok untuk “broad market scope” (market yang besar dan pelanggannya bermacam2), dimana perusahaan punya keunikan yang lain dari market yang ada. (contoh: Toko Joger di Bali).
Cost Leadership, strategi beaya rendah, cocok untuk market yang besar dimana perusahaan memiliki kompetensi kuat dalam menekan harga pokoknya. Skala ekonomi membuat kompetitor sulit bersaing dengan mereka. (contoh: Walmart, Hypermart, Giant).
Focus, adalah penajaman fokus kita pada “segmen market” khusus yang mampu kita layani dengan sangat baik. Fokus bisa berupa segmen produk/service ataupun pelanggan. (contoh: Vertu, Harley Davidson, LV).
Tentunya ketiga strategi itu tidak cukup, kita butuhkan strategi bisnis yang lebih tajam dan jelas untuk memajukan dan mengembangkan bisnis kita. Dalam menyusun ”Marketing Plan”, hal ini justru jadi kunci yang paling penting. Pada umumnya setahun sekali cukup untuk menyusun dan mengalisa kembali strategi kita.
Penyusunan strategi dimulai dengan analisa 3C: Customers (apa dan bagaimana pelanggan kita berprilaku dalam membeli produk kita), Competitors (siapa dan apa yang dilakukan pesaing kita), dan Company (Perusahaan kita, apa saja keunggulan dan kekurangan kita dimata pelanggan kita, dan bagaimana kita dibanding pesaing kita). Serta memahami perubahan dan trend yang sedang terjadi saat ini.

Read More

TIPS Agar Produk Kita Disukai Bahkan Dicari Orang Banyak

Sabtu, April 27, 2013 | , ,

TIPS 

Agar Produk Kita Disukai Bahkan Dicari Orang Banyak

APAKAH Anda pernah ditawari suatu produk dengan harga cukup tinggi, namun Anda tertarik dan akhirnya mau membelinya? Kemudian, Anda sempat berpikir. “Mengapa si penjualnya bisa tahu kalau saya benar-benar membutuhkan dan menyukai produk itu, ya? Hebat sekali dia, baru bertemu sekali, namun saya bisa merasa percaya dan membeli apa yang ditawarkannya”.

Rahasia agar Produk Kita Disukai dan Selalu Dicari-cari Banyak Orang


Dan beberapa waktu kemudian, ketika Anda ingin membeli produk itu kembali, maka dengan senang hati Anda mencari penjual tersebut (meski mungkin ada penjual lain yang menawarkan produk sejenis).
Bahkan tanpa diminta, Anda mau merekomendasikan penjual tersebut kepada teman, keluarga, atau partner Anda. Mungkin beberapa orang menyebut si penjual itu mempunyai ESP atau Extra Sensory Perception yang luar biasa.ESP dalam hal ini bisa diartikan sebagai suatu kemampuan yang dimiliki seseorang atau penjual untuk bisa mengerti dengan mendalam akan karakter orang lain, sehingga seseorang atau penjual tersebut mampu mengetahui dengan lebih mendalam akan apa yang sebenarnya diinginkan atau dibutuhkan orang lain tersebut.

Kemampuan ini sebenarnya bisa dimiliki seseorang yang mau mendalami dan mengembangkannya. Jika digunakan dengan tepat, kemampuan ini bisa membantu seorang penjual untuk bisa memberikan presentasi atau komunikasi yang lebih baik, sehingga dengan lebih mudah dan cepat mampu memberikan suatu penjelasan yang lebih menarik dan tentu saja lebih menjual.
Telah banyak penjualan yang saya lakukan selama ini, dengan terus-menerus belajar dan praktik mengenai bagaimana cara mengetahui karakter dari calon konsumen/klien secara tepat dan efektif,maka banyak orang yang senantiasa sangat tertarik dengan produk atau jasa yang saya tawarkan. Dan lebih hebatnya lagi, banyak dari mereka yang terus-menerus mencari produk atau jasa saya, serta senantiasa mau mereferensikan kepada banyak orang lain.

Anda pun bisa belajar lebih mendalam dan detail hal tersebut, antara lain melalui Sales Magic. Sesuatu dikatakan “Magic” sebenarnya karena orang-orang tersebut belum mengetahui caranya atau bagaimana detail cara melakukannya.
Dengan kata lain, sebenarnya kita pun bisa mempelajari dan mendalami secara ilmiah bagaimana bisa mengenal berbagai karakter calon konsumen dengan lebih baik dalam waktu yang lebih cepat, sehingga mampu meningkatkan kemampuan penjualan kita. Seperti yang dikatakan Maxwell Maltz, seorang ahli dalam bidang Psycho-Cybernetics, bahwa jika di dalam benak kita terdapat gambaran tentang keberhasilan yang jelas, penuh keyakinan, sangat kuat, maka hal tersebut mampu mengarahkan Mekanisme-Pembentuk Citra Diri kita untuk menciptakan bahasa tubuh dan komunikasi nonverbal yang benar.

Dengan demikian bisa membantu membentuk suatu karisma, atau citra diri yang kuat dari dalam diri kita, termasuk wajah atau ekspresi kita, yang membantu dalam efektivitas komunikasi yang kita lakukan. Dan jika Anda rutin praktik, bukan lagi Anda bisa melakukan closingkepada satu orang dalam satu waktu, namun Anda juga akan mampu melakukan closing kepada banyak orang sekaligus dalam satu waktu.
Ketika saya memberikan penawaran baik berupa seminar, buku, CD,atau produk/jasa apa pun kepada calon konsumen/ klien, ternyata dengan melakukan fact finding di antaranya: apa yang benar_benar mereka butuhkan, apa yang benar-benar memotivasi mereka untuk melakukan pembelian, dan beberapa hal lainnya, maka akhirnya banyak orang yang berebut untuk bisa mendapatkan penawaran yang saya berikan.

Dan lebih dahsyat lagi, mereka bukan hanya sekali membeli produk/jasa yang saya tawarkan,namun dengan senang hati mereka terus mencari produk/jasa terbaru saya. Dalam menawarkan atau menjual sesuatu, mungkin Anda pernah merasa bahwa calon konsumen atau calon klien tidak begitu yakin dengan Anda atau tidak yakin dengan penawaran yang Anda berikan.
Secara ilmiah, sebenarnya calon konsumen tersebut sedang menangkap berbagai hal atau sinyal-sinyal mengenai diri kita, di antaranya mengenai gerakan, nada suara, atau bahasa tubuh kita secara keseluruhan.

Agar mereka mau menerima kita dan apa yang kita tawarkan dengan baik,salah satunya adalah dengan senantiasa “memberikan tanggapan yang positif” dari setiap respons yang diberikan mereka.Tidak sedikit para penjual saat baru bertemu dengan calon konsumen sudah berpikir bahwa mereka akan ditolak dan gagal dalam memberikan penawaran, maka biasanya yang terjadi adalah seperti apa yang dipikirkannya tersebut; mereka akan benar-benar ditolak.
Oleh karena itu, jika kita ingin calon konsumen mau menerima penawaran kita dan selanjutnya mau terus mencari produk atau jasa kita, maka mulai hari ini juga: praktikkan sesering mungkin untuk senantiasa memberikan tanggapan yang positif dari setiap respons yang diberikan calon konsumen/klien kita, dan mengetahui dengan lebih mendalam apa saja yang bisa memotivasi mereka untuk melakukan pembelian.
Read More

15 Langkah Menjadi Pemimpin yang Baik

Rabu, April 24, 2013 | , , ,

15 Langkah Menjadi Pemimpin yang Baik

Kepemimpinan adalah sesuatu yang dapat dipelajari sehingga dapat dilaksanakan spontan dan otomatis sepanjang waktu. Para pemimpin, misalnya, dapat segera membuat beberapa keputusan penting mengenai sebuah masalah, sementara orang lain masih dalam tahap menganalisis masalah.

Banyak orang bertanya-tanya bagaimana caranya para pemimpin bisa mengetahui caranya membuat keputusan terbaik, dalam kondisi di bawah tekanan?

Proses pengambilan keputusan terkadang didasari oleh pengalaman panjang menghadapi beragam situasi yang berbeda-beda. Selain itu, proses ini juga dipengaruhi tipe kepribadian, serta kegagalan yang tidak terprediksi. Proses ini adalah kemampuan memahami dan mengenali dampak dan akibat dari sebuah situasi, baik yang terjadi pertama kali maupun berulang.

Para pemimpin yang sukses memang memiliki naluri mengambil keputusan. Karena mereka telah berulang kali melakukannya, mereka menjadi kebal terhadap tekanan dan amat intuitif dalam proses pengambilan keputusan yang paling penting dan strategis. Inilah mengapa para eksekutif senior sering bilang, mereka mengandalkan “firasat” dalam mengambil keputusan sulit dalam waktu cepat.

Bila Anda berminat mengembangkan karier, inilah 15 hal yang harus Anda lakukan secara otomatis, setiap hari:

1. Membuat orang lain nyaman untuk terus terang
Kita sering melihat pemimpin yang terasa “seram” karena titel dan kekuasaan mereka. Nah, pemimpin yang sukses mampu mengalihkan perhatian terhadap diri mereka, dan mendorong orang lain untuk menyuarakan pendapat. Mereka jagoan dalam membuat orang lain nyaman untuk terus terang dan berbagi pandangan. Para pemimpin sukses justru mampu menciptakan suasana yang ramah dan akrab.

2. Mengambil keputusan
Pemimpin sukses adalah pengambil keputusan yang ahli. Mereka bisa melakukannya dengan memfasilitasi dialog, agar para kolega dapat meraih kesimpulan strategis, atau mereka bisa melakukannya sendiri. Mereka fokus “membuat sesuatu terwujud” sepanjang waktu — sebuah pengambilan keputusan yang menyuburkan kemajuan perusahaan. Para pemimpin sukses tidak membuang-buang waktu di masalah yang mengganggu momentum. Mereka tahu caranya mengambil 30 keputusan dalam 30 menit.

3. Komunikasikan target
Pemimpin sukses juga ahli komunikasi, dan ini sungguh terasa ketika mereka sedang berbicara mengenai “target kerja”. Mereka mengingatkan kolega mereka tentang nilai-nilai perusahaan dan target — memastikan visi mereka benar-benar dapat dipahami dan diterjemahkan dalam langkah nyata.

Saya pernah punya bos yang sering mengomunikasikan harapan dia terhadap bawahannya. Dengan begitu, kami jadi bisa fokus dan tetap berjalan sesuai jalur. Prosedur sederhana yang dia lakukan — yakni menyampaikan harapan — terbukti meningkatkan kinerja kami dan membantu kami mengetahui siapa saja di antara kawan-kawan yang tidak dapat memenuhi standar.

4. Menantang orang untuk berpikir
Pemimpin sukses memahami kemampuan serta kelemahan kolega mereka. Mereka menantang kolega untuk berpikir, dan membantu mereka untuk lebih mengembangkan kemampuan. Jenis pemimpin seperti ini amat piawai dalam mendorong perkembangan pegawai, sehingga orang tidak mudah terlena serta terus tumbuh.

Jika Anda tidak berpikir, Anda berarti tidak belajar hal yang baru. Jika Anda tidak belajar, berarti Anda tidak berkembang — dan lama-lama Anda akan jadi tidak penting di pekerjaan.

5. Dapat diandalkan
Pemimpin sukses membiarkan dirinya diatur oleh kolega. Perhatikan: diatur, bukan dikendalikan. Pemimpin membuktikan diri dapat diandalkan sehingga para bawahan jadi yakin bahwa mereka akan dibantu ketika dalam kesulitan.

Dengan membimbing dan mendukung pegawai, sikap dapat diandalkan juga menunjukkan bahwa bos tidak cuma peduli dengan kariernya, tapi juga karier pegawai.

6. Memberi contoh
Memberi contoh terdengar gampang, tapi kenyataannya banyak pemimpin yang gagal di hal yang satu ini. Nah, pemimpin sukses memberi dan melaksanakan contoh yang mereka berikan. Mereka tahu bahwa mereka diamati oleh bawahan.

7. Mengukur dan menghargai kinerja
Pemimpin hebat selalu punya “denyut” terhadap kinerja bisnis dan orang-orang yang bekerja keras. Mereka tidak hanya memperhatikan angka-angka, tapi juga secara aktif menghargai kerja keras orang — apa pun hasil akhirnya. Pemimpin sukses tidak pernah sebelah mata memandang pegawai yang bekerja keras “karena memang sudah seharusnya”.

8. Senantiasa memberi masukan
Pemimpin sukses selalu memberi masukan kepada bawahan dan juga mau menerima masukan. Caranya? Dengan menciptakan suasana kerja yang penuh rasa percaya. Mereka sendiri sudah memahami betapa pentingnya masukan, sejak awal karier mereka dulu.

9. Bongkar-pasang tim dengan benar
Para pemimpin hebat tahu benar kemampuan dan keahlian bawahan. Sehingga, mereka sangat cermat dalam menentukan “formasi pemain”. Mereka mengetahui pegawai mana yang harus ditugaskan untuk mengatasi situasi tertentu.

10. Bertanya dan mencari nasihat
Pemimpin sukses melemparkan pertanyaan dan mencari nasihat setiap waktu. Dari luar, mereka sepertinya tahu segalanya. Tetapi dari dalam, mereka sebenarnya haus pengetahuan dan selalu mencari cara mempelajari hal baru karena mereka ingin meningkatkan kemampuan mereka dengan nasihat orang lain.

11. Mengatasi masalah, tanpa menunda
Pemimpin sukses segera mengatasi masalah langsung ke akarnya. Mereka tidak menunda-nunda masalah. Kalau ada masalah, mereka juga tidak kabur. Mereka tahu bahwa orang bisa maju bila melakukan hal yang orang lain tidak suka.

12. Energi dan perilaku positif
Pemimpin sukses menciptakan budaya kerja yang positif sehingga para bawahan termotivasi bekerja. Mereka disukai dan dihargai. Mereka tidak mau momentum terganggu oleh kegagalan.

13. Menjadi guru
Banyak pegawai mengeluh, bos mereka tidak mau lagi mengajari mereka. Tetapi pemimpin sukses tidak pernah berhenti mengajari bawahannya, sebab mereka sendiri juga haus pengetahuan. Pemimpin sukses akan meluangkan waktu untuk membimbing kolega mereka serta mendukung pegawai yang memang terbukti mampu untuk maju.

14. Memperkokoh hubungan
Pemimpin yang sukses tidak berfokus mempertahankan “kerajaannya” — justru sebaliknya, mereka mengembangkan wilayah dengan memperkokoh hubungan yang saling menguntungkan. Pemimpin sukses berbagi hasil kesuksesan untuk menciptakan momentum dengan mereka yang ada di sekeliling.

15. Menikmati tanggung jawab
Pemimpin sukses memang menyukai jadi pemimpin. Bukan karena kekuasaan yang didapat, tapi karena dampak bermanfaat yang bisa mereka ciptakan. Bila Anda sudah meraih posisi senior, ini berarti Anda harus melayani orang lain dan Anda baru bisa melakukannya bila benar-benar menyukai pekerjaan.

Pada akhirnya, pemimpin sukses akan mampu mempertahankan keberhasilan karena 15 hal yang dibahas di atas dapat membantu mereka meningkatkan nilai organisasi, dan di saat yang bersamaan mengurangi risiko.

source: http://adf.ly/NfnZG

Read More

Samsung : Only Paranoid Will Survive !

Senin, April 15, 2013 | , , ,

Samsung : Only Paranoid Will Survive

Tak banyak yang menyangka kalau Samsung yang dulu dikenal hanya sebagai tukang bikin kulkas, kini menjadi jawara dalam panggung peperangan smartphone global yang begitu keras.
Setelah meninggalkan Nokia dan BB dalam debu kekalahan yang terasa begitu pahit, Samsung kini juga terus membayangi Apple yang selalu dikenang sebagai sang legenda inovasi.
Samsung Galaxy S III dan Samsung Android Series mungkin terus akan menari dan berdansa. Dalam pekik kemenangan itu, kita mungkin layak membuka tirai : rahasia bisnis apa yang membuat mereka begitu digdaya?
Pelan-pelan saya akan mengajak Anda semua menyingkap tirai kemenangan itu. Disini. Di blog yang spesial ini.
Dalam laporan utamanya yang ekstensif, majalah Bloomberg BusinessWeek mencoba mengulik rahasia dibalik melentingnya Samsung menjadi perusahaan elektronik no 1 di dunia (dari sisi sales revenue). Ada setidaknya 3 faktor kunci yang dibentangkan di dalamnya.
Faktor # 1 : Kuasai Dulu Jeroannya, Lalu Serang. Premis ini maknanya begini : sebelum memproduksi produk akhir (end products), Samsung selalu memulai dengan cara membikin komponen kunci yang membentuk produk akhir itu.
Begitulah, setelah mampu membuat komponen kunci itu, Samsung memilih “sekedar” menjadi pemasok komponen itu buat pabrikan lain (untuk digunakan membikin produk akhir).
Contoh : bertahun-tahun Samsung membuat LCD panels untuk produsen televisi (sambil memasok, mereka “membongkar” bagimana proses produksi televisi dilakukan).
Setelah paham semuanya — jeger — mereka lalu membuat sendiri TV LCD dengan masif (dan lalu menyalip produsen yang dulu dipasoknya). Kini, Samsung adalah produsen TV LCD dan TV LED nomer 1 di dunia.
Skema seperti diatas dilakukan juga untuk smartphone : bertahun-tahun Samsung “hanya” memasok flash memory dan RAM chips ke produsen lain seperti Apple dan Nokia. Setelah paham rumusnya — abrakadabra —mereka membikin sendiri produk smartphone (dan menyalip lagi produsen yang dulu dipasoknya).
Faktor # 2 : Speed in Product Development. Tak ada produsen lain yang sebegitu cepat meluncurkan beragam produk baru dalam waktu yang teramat pendek. Samsung melakukannya berulang kali.
Salah satu sebab kenapa mereka bisa seperti itu adalah : karena mereka juga membuat sendiri banyak komponen inti smartphone (sebab ingat, mereka dulu memulainya dengan berperan sebagai pemasok komponennya).
Menguasai supply chain dari awal hingga akhir adalah kunci kecepatan me-launch produk baru (sesuatu yang jarang dimiliki oleh rival – lantaran mereka banyak tergantung pada supplier lain, bahkan termasuk pasokan komponen inti dari Samsung juga).
Faktor 3 : Lee Kun Hee Magic. Tak pelak, kecepatan pengambilan keputusan dan product development juga tak lepas dari faktor Lee Kun Hee, CEO legendaris yang begitu powerful menjalankan Samsung.
Lee adalah “Steve Jobs of Korea” : figur visioner, brilliant risk taker, dan tidak suka ba bi bu dalam mengambil keputusan.
Lee jugalah yang selalu meng-instal sense of crisis dalam tubuh Samsung agar terus bergerak inovatif. Kini Samsung boleh bangga menjadi smartphone producer top dunia. Namun di sekujur pabriknya di Gumi, Korea sana, terpampang poster -poster besar dengan bunyi seperti ini : We are in Danger. We are in Perpetual Crisis.
Dalam perang inovasi yang brutal, berbangga diri adalah kemewahan yang mematikan. Kelengahan sekejap bisa berakibat terpeleset dalam bibir kehancuran.
Lee mungkin amat sadar dengan itu. Dalam meeting-meeting dengan jajaran manajemen-nya, ia selalu menggelolarakan “never ending sense of crisis” itu : agar fighting spirit untuk berinovasi selalu bisa dikibarkan.
Lee juga tak lupa mengutip petuah bijak dari Andy Groove, pendiri raksasa Intel. Petuah yang selalu terngiang di telinganya : Only Paranoid Will Survive.
Hanya dengan itu, mungkin Samsung bisa terus bertahan. Dan bukan menjadi korban berikutnya dari innovation war yang tak kenal ampun.
Written by Yodhia Antariksa
Read More

The Death of Samurai I : Robohnya Sony, Panasonic, Sharp, Toshiba dan Sanyo

Kamis, April 11, 2013 | , , ,

The Death of Samurai : Robohnya Sony, Panasonic, Sharp, Toshiba dan Sanyo
Hari-hari ini, langit diatas kota Tokyo terasa begitu kelabu. Ada kegetiran yang mencekam dibalik gedung-gedung raksasa yang menjulang disana. Industri elektronika mereka yang begitu digdaya 20 tahun silam, pelan-pelan memasuki lorong kegelapan yang terasa begitu perih.
Bulan lalu, Sony diikuti Panasonic dan Sharp mengumumkan angka kerugian trilyunan rupiah. Harga-harga saham mereka roboh berkeping-keping. Sanyo bahkan harus rela menjual dirinya lantaran sudah hampir kolaps. Sharp berencana menutup divisi AC dan TV Aquos-nya. Sony dan Panasonic akan mem-PHK ribuan karyawan mereka. Dan Toshiba? Sebentar lagi divisi notebook-nya mungkin akan bangkrut (setelah produk televisi mereka juga mati).
Adakah ini pertanda salam sayonara harus dikumandangkan? Mengapa kegagalan demi kegagalan terus menghujam industri elektronika raksasa Jepang itu? Di Senin pagi ini, kita akan coba menelisiknya.
Serbuan Samsung dan LG itu mungkin terasa begitu telak. Di mata orang Jepang, kedua produk Korea itu tampak seperti predator yang telah meremuk-redamkan mereka di mana-mana. Di sisi lain, produk-produk elektronika dari China dan produk domestik dengan harga yang amat murah juga terus menggerus pasar produk Jepang. Lalu, dalam kategori digital gadgets, Apple telah membuat Sony tampak seperti robot yang bodoh dan tolol.
What went wrong? Kenapa perusahaan-perusahaan top Jepang itu jadi seperti pecundang? Ada tiga faktor penyebab fundamental yang bisa kita petik sebagai pelajaran.

Faktor 1 :
Harmony Culture Error. Dalam era digital seperti saat ini, kecepatan adalah kunci. Speed in decision making. Speed in product development. Speed in product launch. Dan persis di titik vital ini, perusahaan Jepang termehek-mehek lantaran budaya mereka yang mengangungkan harmoni dan konsensus.
Datanglah ke perusahaan Jepang, dan Anda pasti akan melihat kultur kerja yang sangat mementingkan konsensus. Top manajemen Jepang bisa rapat berminggu-minggu sekedar untuk menemukan konsensus mengenai produk apa yang akan diluncurkan. Dan begitu rapat mereka selesai, Samsung atau LG sudah keluar dengan produk baru, dan para senior manajer Jepang itu hanya bisa melongo.
Budaya yang mementingkan konsensus membuat perusahaan-perusahaan Jepang lamban mengambil keputusan (dan dalam era digital ini artinya tragedi).
Budaya yang menjaga harmoni juga membuat ide-ide kreatif yang radikal nyaris tidak pernah bisa mekar. Sebab mereka keburu mati : dijadikan tumbal demi menjaga “keindahan budaya harmoni”. Ouch.

Faktor 2 :
Seniority Error. Dalam era digital, inovasi adalah oksigen. Inovasi adalah nafas yang terus mengalir. Sayangnya, budaya inovasi ini tidak kompatibel dengan budaya kerja yang mementingkan senioritas serta budaya sungkan pada atasan.
Sialnya, nyaris semua perusahaan-perusahaan Jepang memelihara budaya senioritas. Datanglah ke perusahaan Jepang, dan hampir pasti Anda tidak akan menemukan Senior Managers dalam usia 30-an tahun. Never. Istilah Rising Stars dan Young Creative Guy adalah keanehan.
Promosi di hampir semua perusahaan Jepang menggunakan metode urut kacang. Yang tua pasti didahulukan, no matter what. Dan ini dia : di perusahaan Jepang, loyalitas pasti akan sampai pensiun. Jadi terus bekerja di satu tempat sampai pensiun adalah kelaziman.
Lalu apa artinya semua itu bagi inovasi ? Kematian dini. Ya, dalam budaya senioritas dan loyalitas permanen, benih-benih inovasi akan mudah layu, dan kemudian semaput. Masuk ICU lalu mati.

Faktor 3 :
Old Nation Error. Faktor terakhir ini mungkin ada kaitannya dengan faktor kedua. Dan juga dengan aspek demografi. Jepang adalah negeri yang menua. Maksudnya, lebih dari separo penduduk Jepang berusia diatas 50 tahun.
Implikasinya : mayoritas Senior Manager di beragam perusahaan Jepang masuk dalam kategori itu. Kategori karyawan yang sudah menua.
Disini hukum alam berlaku. Karyawan yang sudah menua, dan bertahun-tahun bekerja pada lingkungan yang sama, biasanya kurang peka dengan perubahan yang berlangsung cepat. Ada comfort zone yang bersemayam dalam raga manajer-manajer senior dan tua itu.
Dan sekali lagi, apa artinya itu bagi nafas inovasi? Sama : nafas inovasi akan selalu berjalan dengan tersengal-sengal.
Demikianlah, tiga faktor fundamental yang menjadi penyebab utama mengapa raksasa-raksasa elektronika Jepang limbung. Tanpa ada perubahan radikal pada tiga elemen diatas, masa depan Japan Co mungkin akan selalu berada dalam bayang-bayang kematian.
Source:
http://adf.ly/Mkw8f

Read More